Beda dari Yen Cs, Rupiah Malah Sakti Pekan Ini! Terbantu Liburan?

Beda dari  Yen Cs, Rupiah Malah Sakti Pekan Ini! Terbantu Liburan?

Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini walau dihujani sentimen negatif dari di lalu luar negeri.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Rabu (7/2/2024), nilai tukar rupiah ditutup di dalam sikap Rp15.630/US$ atau terapresiasi 0,61%. Menguatkan ini mematahkan tren pelemahan yang digunakan terjadi dua hari beruntun.

Dalam sepekan, nilai tukar rupiah menguat 0,16%. Menguatkan ini melanjutkan tren positif rupiah yang juga menguat 1,01% pada pekan sebelumnya.

Seperti diketahui, bursa keuangan Indonesia hanya sekali mengakses selama tiga hari pekan ini sebab ada libur panjang Hari Raya Imlek dan juga Isra Mi’raj.

Penguatan rupiah pekan ini justru terjadi di tempat berada dalam banyaknya sentimen negatif mulai dari melonjaknya indeks dolar, capital outflow, hingga pernyataan hawkish dari beberapa orang pejabat bank sentral Negeri Paman Sam The Federal Reserve (The Fed).

Namun, perdagangan rupiah yang dimaksud belaka berlangsung tiga hari pekan ini membatasi pelemahan. Fakta ini setidaknya dilandasi bahwa mayoritas mata uang Asia ambruk pada pekan ini.

Mata uang ringgit Negara Malaysia jatuh 0,95%, yen Negeri Sakura ambruk 0,63%, dolar Singapura merosot 0,32%, kemudian yuan China melemah 0,001%. Hanya won Korea yang menguat sangat tajam.

Dalam sepekan ini, nilai tukar mayoritas mata uang Asia mengalami tekanan sebab kembali hawkishnya pernyataan The Fed. Kondisi ini memproduksi indeks dolar menguat tajam.

Indeks dolar menguat dari 103,92 pada pekan lalu menjadi 104,11 pada hari terakhir pekan kemarin. Skala dolar sekarang ini bergerak dalam bilangan bulat 104 yang merupakan level tertingginya sejak awal Desember 2022 atau dua bulan terakhir.

Indeks melonjak setelahnya sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pandangan mengenai kebijakan The Fed ke depan di tempat beberapa acara pekan ini.

Mayoritas menegaskan apabila The Fed belum akan memangkas suku bunga sampai merek percaya diri apabila kenaikan harga akan turun ke kisaran 2%. Namun, terdapat pula pejabat yang dimaksud cenderung dovish.
“Saat ini kebijakan kami sudah ada bagus, kamu sangat hati-hati di menilai data-data yang mana sudah ada ada juga outlook ke depan. Jika kami mulai percaya diri kamu akan mulai memangkas suku bunga tahun ini,” tutur Presiden The Fed Boston Susan Collins di tempat acara Boston Economic Club, pada Rabu pekan ini, dikutipkan dari Reuters.

Sebelumnya, Chairman The Fed Jerome Powell telah mengisyaratkan apabila pemangkasan masih jauh.Powell di wawancaranya pada “60 Minutes” di CBS mengatakan apabila The Fed akan berhati-hati pada memangkas suku bunga tahun ini.

“Kami ingin mengamati bukti yang tersebut lebih tinggi meyakinkan jikalau kenaikan harga melaju ke kisaran 2% sebelum mengambil langkah yang sangat penting merupakan pemangkasan suku bunga,” tutur Powell, dikutipkan dari CNBC International.

Presiden The Richmond President Thomas Barkin di tempat acara The Economic Club of Washington juga menyampaikan pandangan hawkish.Dia menekankan apabila The Fed akan sabar menanti naiknya harga turun.

Sebaliknya, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari memiliki pandangan yang mana lebih dovish.

Saya mampu katakan dua atau tiga kali pemangkasan suku bunga tepat dilaksanakan sejarang jikalau meninjau data yang tersebut ada,” tuturnya dikutipkan dari CNBC International.

Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan semata-mata 17,5% pelaku bursa memproyeksi The Fed akan memangkas suku bunga pada Maret mendatang. Padahal, probabilitas pemangkasan masih mencapai 70% pada tiga pekan lalu.

Dari di negeri, sentimen negatif datang dari laporan cadangan devisa (cadev). BI telah dilakukan merilis data cadev yang mengecil pada akhir Januari 2024 dibandingkan Desember 2023.

Tercatat sikap cadev Indonesia pada akhir Januari 2024 masih tinggi sebesar US$145,1 miliar. Cadangan devisa ini turun US$1,3 miliar dibandingkan dengan tempat pada akhir Desember 2023 sebesar US$ 146,4 miliar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *